Ibas Dialog Bareng Petani di Ngawi

Ngawi -- Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) memulai rangkaian reses bulan Ramadan tahun 2026 di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (Jatim). Dalam kesempatan tersebut, Ibas menggelar dialog bersama petani, penyuluh pertanian, serta petani milenial dan Gen Z.
Dialog bersama petani tersebut bertajuk 'Petani Kuat, Pangan Berdaulat, Rakyat Bahagia'. Dalam sambutannya, Ibas menegaskan pangan adalah fondasi kekuatan bangsa.

"Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Kedaulatan pangan adalah syarat kemerdekaan sejati," tegas Ibas, dalam keterangannya, Jumat (27/2/2026).
Menurut Ibas, dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim, krisis pangan global, dan gangguan distribusi.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan lebih dari 700 juta orang di dunia masih mengalami rawan pangan. Menurut Ibas, Indonesia tidak boleh masuk dalam angka tersebut.

Secara nasional, produksi beras Indonesia tahun 2025 mencapai sekitar 34-35 juta ton, naik lebih dari 10% dibanding tahun sebelumnya.

Luas panen nasional telah menembus lebih dari 11 juta hektare, dengan sektor pertanian menyerap lebih dari 29% tenaga kerja nasional.

"Artinya satu dari tiga pekerja Indonesia ada di sektor pertanian. Ini tulang punggung bangsa," ujar Ibas.
Tetapi nilai tukar petani masih fluktuatif di angka 110-120. Kesejahteraan belum sepenuhnya stabil. Ini tantangan bersama," sambungnya.

Ibas menyebut Ngawi sebagai salah satu lumbung pangan strategis Jatim. Namun, Ibas menegaskan bahwa Ngawi tidak boleh hanya bergantung pada padi.

Ibas mendorong pengembangan sektor jagung hibrida, kedelai lokal, hortikultura, peternakan terpadu, hingga pertanian organik dan beras premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Jangan hanya menanam yang biasa, tanamlah yang memberi nilai. Petani harus masuk ke nilai tambah, bukan hanya produksi mentah," kata Ibas.

Dalam dialog tersebut, Ibas juga menyerap aspirasi kritis petani, mulai dari persoalan distribusi pupuk, harga gabah saat panen raya, perbaikan irigasi, keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga akses permodalan.
Sebagai bentuk upaya, ia memaparkan realisasi bantuan di Ngawi dalam beberapa tahun terakhir.

Bantuan tersebut berupa pompa air, traktor roda 4, traktor roda 2, handsprayer, power thresher, corn sheller, bioflok, Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), vitalisasi tambak, serta bantuan alat pertanian dan vitamin tanaman.

"Ini bukan sekadar program. Ini bentuk kawalan dan keberpihakan nyata, Tapi kita tidak boleh berhenti," kata Ibas.


0/Post a Comment/Comments

Dibaca :